Rabu, 01 Mei 2013

Dongeng Sebagai Media Belajar


  1. A.    Pengertian
Beberapa pengertian dongeng menurut para ahli yaitu :
  1. Woolfson ( dalam Puspita: 2009) menyatakan hasil riset menunjukkan bahwa dongeng merupakan aktivitas tradisional yang jitu bagi proses belajar dan melatih aspek emosional dalam kehidupan anak-anak. Sebab ketika seseorang masih kanak-kanak, keadaan psikologisnya masih mudah dibentuk dan dipengaruhi. Oleh sebab itu ketika faktor yang memengaruhi adalah hal yang positif maka emosi anak akan positif juga.
  2. Poerwadarminto (dalam Handajani, 2008: 13) menyatakan bahwa dongeng merupakan cerita tentang kejadian zaman dahulu yang aneh-aneh atau cerita yang tak terjadi. Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan walaupun banyak juga melukiskan tentang kebenaran, berisikan pelajaran (moral), bahkan sindiran. Pengisahan dongeng mengandung harapan-harapan, keinginan-keinginan, dan nasihat baik yang tersirat maupun tersurat.
  3. Handajani (2008: 14) mengemukakan bahwa dongeng dikemas dengan perpaduan antara unsur hiburan dengan unsur pendidikan. Unsur hiburan dalam dongeng dapat ditemukan pada penggunaan kosa kata yang bersifat lucu, sifat tokoh yang jenaka, dan penggambaran pengalaman tokoh yang jenaka, sedangkan dongeng memiliki unsur pendidikan ketika dongeng tersebut mengenalkan dan mengajarkan kepada anak mengenai berbagai nilai luhur, pengalaman spiritual, petualangan intelektual, dan masalah-masalah sosial di masyarakat.
Dongeng merupakan media yang sangat efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika terhadap anak. Termasuk menimbulkan rasa empati dan simpati anak. Nilai-nilai yang bisa dipetik dari dongeng adalah nilai kejujuran, kerendahhatian, kesetiakawanan, kerja keras, dan lain sebagainya. Bagi murid usia sekolah dasar (SD), ternyata mendongeng masih tetap selalu dinantikan. Cerita atau dongeng adalah salah satu media komunikasi guna menyampaikan beberapa pelajaran atau pesan moral kepada anak. Selain itu, tentu saja, metode-metode pembelajaran lainnya yang pada saat ini telah menggunakan teknologi canggih yang menarik untuk para peserta didik.
Telah terbukti bahwa menyampaikan pembelajaran dengan cara mendongeng pun tak kalah menariknya bila dibandingkan dengan pembelajaran melalui alat peraga atau alat bantu teknologi canggih. pesan moral dapat dengan mudah disampaikan kepada anak melalui sebuah cerita atau dongeng. Tidak ada batasan usia kapan anak mulai boleh mendengarkan dongeng. Anak-anak usia prasekolah dapat mendengarkan cerita sederhana tentang hewan.
Mendongeng bisa menjadi aktivitas berkomunikasi dengan anak yang mudah dan murah. Di samping itu, mendongeng juga bisa menjadi sarana efektif dalam menyampaikan pesan pada anak. Anak tidak merasa dinasehati atau digurui oleh orang tua/pendidik karena tercipta suasana menyenangkan. Anak pun diposisikan sebagai subyek aktif yang ikut bermain peran dan/atau melibatkan seluruh inderanya untuk larut dalam cerita. Materi dongeng dapat diambil dari buku cerita anak-anak yang memuat pesan moral atau dari kejadian sehari-hari yang berlangsung di sekitar lingkungan tinggal anak. Kegiatan mendongeng juga akan menumbuhkan kecintaan anak pada buku karena anak menemukan banyak hal positif yang bisa diperoleh dengan membaca buku. Dongeng bisa berpengaruh pada perkembangan fisik, intelektual, dan mental anak. Ini dikarenakan keterlibatan seluruh indera anak ketika mendengarkan dongeng. Kecerdasan kognitif anak terasah lewat keterampilan berimajinasi dan menyimpulkan makna yang terkandung dalam cerita. Keterlibatan secara aktif dalam aktivitas dongeng akan memberikan pengalaman konkret pada anak sehingga akan tertanam kuat dalam struktur kognitif anak.
Dongeng berpotensi memberikan sumbangsih besar bagi anak sebagai manusia yang memiliki jati diri yang jelas, jati diri anak ditempa melalui lingkungan yang diusahakan secara sadar dan tidak sadar. Dongeng dapat digunakan sebagai sarana mewariskan nilai-nilai luhur kepribadian, secara umum dongeng dapat membantu anak menjalani masa tumbuh kembangnya. Anak-anak dapat memahami pola drama kehidupan melalui tokoh dongeng. Melalui dongeng, anak-anak akan terlibat dalam alur cerita dongeng dalam hal ini anak-anak menumbuhkembangkan intelektualitasnya. Dongeng mampu membawa anak melanglangbuana, memasuki dunia fantasi, menyeret mereka ke dunia antah-berantah dan membayangkan berbagai “kehidupan lain” yang tidak ada di dekat mereka, dalam hal ini dapat menumbuhkan dan menggerakkan daya ciptanya (Thobroni, 2008: 6-8).
  1. B.     Manfaat Dongeng
Dongeng memberikan beberapa manfaat bagi anak antar lain untuk mengembangkan kosa kata, memberi teladan, pesan moreal, dan problem solving. Dengan demikian, diharapkan anak dapat menerapkan apa yang sudah mereka dengarkan dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut adalah beberapa manfaat lain dari dongeng bagi anak.
  1. Media Menanamkan Nilai dan Etika
Dongeng merupakan media yang sangat efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika kepada anak, termasuk menimbulkan rasa empati dan simpati anak. Nilai-nilai yang bisa dipetik dari dongeng adalah nilai kejujuran, rendah hati, kesetiakawanan, kerja keras, dan lain sebagainya.
  1. Memperkenalkan Bentuk Emosi
Dari dongeng yang diberika, pastinya memiliki karakter dan tokoh yang berbeda-beda. Sebagai orang tua, Anda harus memahami makna daro dingeng tersebut, sehingga Anda bisa memberikan penekanan tertentu  pada dialog dan ekspresi. Selain itu, Anda juga bisa menceritakan emosi para tokoh seperti emosi negatif dan positif. Hal ini akan membantu anak dengan masalah agresifitas dan mengajarkan untuk berempati pada sesama temannya.
  1. Mempererat Ikatan Batin
Bagi orang tua yang memiliki kesibukan yang padat, mendongeng adalah salah satu trik untuk mendekatkan diri pada anak Anda. Kesibukan Anda membuat Anda tidak dapat bermain dengan si kecil setiap saat. Oleh karena itu, pergunakan waktu senggang Anda dirumah untuk memberikan cerita atau dongeng pada anak Anda.
  1. Memperluas Kosa Kata
Semakin banyak membaca, semakin banyak tahu. Orang tua bisa menggunakan dongeng sebagai media untuk memperkenalkan kosa kata asing pada anak yang pastinya akan berguna disekolahan nantinya.
  1. Merangsang Daya Imaginasi
Selain membacakan cerita atau dongeng dari buku, Anda bisa membuat cerita singkat tanpa panduan buku. Kemudian, pandulah anak Anda untuk melanjutkan cerita tersebut  berdasarkan imaginasi mereka sendiri. Ajukan juga beberapa pertanyaan untuk memancing daya imaginasinya.
Puspita (2009) menyatakan terdapat empat manfaat dari dongeng, yaitu:
  1. Dongeng dapat mengasah imajinasi dan daya pikir anak. Ketika berhadapan dengan dongeng, anak akan memvisualisasikan cerita tersebut sesuai dengan imajinasinya.
  2. Dongeng dapat mempererat ikatan komunikasi antara pendongeng dan audiens.
  3. Dongeng merupakan media efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika.
  4. Dongeng dapat membantu menambah perbendaharaan kata pada anak.
  1. C.    Jenis-jenis dongeng
Ada 3 jenis dongeng yaitu :
  1. Dongeng binatang atau fabel yaitu sebuah dongeng yang di dalamnya menceritakan tentang perbuatan baik atau buruknya binatang, di dalam fable tokoh binatang berpeerilaku seperti manusia. Hal tersebut menggambarkan watak dan budi pekerti manusia, seperti buaya dan kancil merupakan slah satu contoh dongeng binatang atau fable dan mereka di gambarkan sebagai hewan licik, dan cerdik.
  2. Dongeng biasa yaitu dongeng yang menceritakan tentang tokoh baik suka maupun duka, seperti dongeng bawang merah dan bawang putih.
  3. Dongeng lelucon yaitu dongeng yang berisikan cerita lucu tentang tokoh tertentu, misalnya si Kabayan dari jawa barat, Lebai malang, pak Pandir, pak Belalang.
  4. D.    Cara Mendongeng
Beberapa cara menjadi pendongeng yang baik
Baik, dapat diartikan menjadi dua hal. Yang pertama adalah baik dari segi penampilan dan baik orangnya atau pendongengnya. Dalam kesempatan ini akan disampaikan baik dari segi penampilannya. Bagaimanakah seorang pendongeng dapat menampilkan sebuah dongeng dengan baik sehingga dapat menyampaikan materi dongeng dengan menarik. Saya tidak akan menyampaikan teori teks book, tetapi lebih pada penyampaian pengalaman selama menjadi pendongeng dan pendidik.
  1. Kuasailah Materi
Materi dongeng yang akan kita sampaikan hendaklah terkuasai sehingga kita dapat berimprovisasi dengan baik. Menguasai materi cerita berbeda dengan menghafal. Kalau kita menghafal akan sangat sulit seandainya di tengah jalan ternyata ada anak yang bertanya atau menyampaikan suatu kesan. Sangat mungkin seorang yang menghafal sebuah cerita tiba-tiba lupa dan berhenti di tengah-tengah sehingga sangat mengganggu jalannya cerita. Penguasaan di sini lebih di titik beratkan pada penguasaan unsur-unsur pembangun dalam cerita seperti tokoh, seting, alur, dan juga konflik.
Memahami karakter tokoh dalam cerita sangat perlu karena dari tokohlah kita dapat membangun alur dan konflik. Tokoh harus kita bedakan antara yang antagonis dan protagonis sehingga anak dapat membedakan perwatakan masing-masing tokoh.
Seting ini sangat berperan dalam membangun suasana cerita sehingga anak dapat membayangkan dimana dan sedang berbuat apa para tokoh dalam cerita.
Alur adalah sesuatu yang sangat vital dalam cerita. Kita harus tahu benar kapan mulai terjadi konflik, hingga klimaks konfliks dan akhirnya penyelesaian. Hal ini dapat membuat cerita kita menjadi hidup dan menarik. Penciptaan konflik yang dramatis akan membuat sebuah cerita tetap berkesan di alam imajinasi anak. Sehingga seorang pendongeng haruslah cermat dalam penciptaan konflik .
2. Hidupkan Tokoh
“Bibi…. Aku tidak boleh ikut main sama teman-teman”
“lho….. mengapa demikian?”
“katanya aku berbeda dengan mereka”
sepenggal percakapan tadi tidak akan menarik seandainya kita hanya membaca dengan biasa tetapi cobalah eksplorasi ekspresi emosi apa yang muncul ketika seorang anak sedang berkata kepada bibinya. Memberi ekspresi emosi inilah yang disebut menghidupkan tokoh apalagi disertai ekspresi mimik pendongeng yang pas. Secara audio pun seorang anak akan dapat mengimajinasikan keadaan tokoh-tokoh dalam cerita. Kemampuan ini sebenarnya dapat dilatihkan secara struktural, tetapi ada juga yang memang mempunyai bakat. Latihan secara struktural itu sebenarnya telah anda lakukan tiap hari yaitu mengamati kehidupan sosial yang ada di kehidupan kita atau melihat pengalaman hidup yang pernah kita rasakan. Bagaimana rasanya ketika kita sedih, bagaimana rasanya ketika kita marah, bagaimana rasanya ketika kita senang, dan lain-lain.
  1. Menghidupkan Kata-kata
Menghidupkan kata dapat dilakukan dengan cara memberi sifat pada kata-kata tersebut.
“tiba-tiba harimau itu menyambar Gurka dengan kukunya yang tajam
dan….. bettt, dada Gurka terobek hingga mengeluarkan darah yang merah.”
“air yang sejuk di pegunungan itu gemericik menambah sejuknya suasana”
dari dua contoh kalimat tersebut, kita akan melihat betapa sebuah kata akan memiliki “roh” yang berbeda dengan kata yang lain.
Mengucapkan kata merah, darah akan sangat berbeda dengan air, sejuk. Coba fahami perbedaannya. Kata merah dan darah bersifat mengerikan, menakutkan, dan lain sebagainya, sedangkan kata air dan sejuk mempunyai sifat damai, tentram, dan lain sebagainya. Itulah yang dinamakan menghidupkan kata kata.
  1. Ikhlaslah dalam Mendongeng
Sedapat mungkin kita harus ikhlas ketika kita mendongeng. Suasana hati akan sangat berpengaruh ketika kita menyampaikan sebuah dongeng. Bayangkan seandainya kita mendongeng sementara di rumah kita sedang terjadi konflik dengan keluarga tentu dongeng kita akan semuanya berisi ekspresi marah dan kesal, meskipun sedang mendongengkan sebuah cerita bahagia. Buatlah suasana hati yang segar dan tenang ketika hendak mendongeng.
  1. Teknik Mengawali dan Mengakhiri Cerita
Awalilah sebuah cerita dengan appersepsi yang menarik. Banyak sekali tehnik-tehnik muncul yang dapat kita gunakan. Buatlah beberapa improvisasi lewat lagu, suara yang beranekaragam, atau menggunakan alat peraga. Dapat juga menggunakan beberapa kali pengulangan hingga anak dapat mennirukannya (Familia: April 2003: 20). Margaret Read Mc. Donald, seorang pendongeng Amerika lebih memilih metode yang terakhir. Ia akan mengulang kata-kata dan gerakan beberapa kali sampai anak memperhatikan dan mungkin menirukannya. Wees Ibnu Say, Ketua Lembaga Rumah Dongeng Indonesia, lebih memilih membuat improvisasi lewat suara atau lagu dalam membuat appersepsi.
Akhirilah sebuah cerita dengan ending yang terbuka sehingga akan memancing anak untuk ingin tahu cerita selanjutnya. Ini juga akan membuat anak menanti cerita kita yang selanjutnya.
  1. E.     Komponen-komponen dalam Dongeng
Dongeng termasuk kedalam cerita narative, maka dari itu susunan penulisanya atau penyampaianya dan bentuknya sama dengan cerita-cerita narative, hanya ada beberapa saja yang berbeda tapi pada dasarnya semuanya sama.
Didalam dongeng juga ada pelaku, tema, dan ciri-cirinya seperti berikut :
ü  Pelaku atau Tokoh dalam Dongeng
a)Dewa dan dewi, ibu dan saudara tiri yang jahat, raja dan ratu, pangeran dan putri, ahli nujum.
b)      peri, wanita penyihir, raksasa, orang kerdil, putri duyung, monster, naga.
c)      binatang, misalnya ikan ajaib dan kancil.
d)     kastil, hutan yang memikat, negeri ajaib.
e)      benda ajaib, misalnya lampu ajaib, cincin, permadani, dan cermin, dll.
ü  Tema Dongeng :
  1. Moral tentang kebaikan yang selalu menang melawan kejahatan.
  2. Kejadian yang terjadi di masa lampau, di suatu tempat yang jauh sekali .
  3. Tugas yang tak mungkin dilaksanakan.
  4. Mantra ajaib, misalnya mantra untuk mengubah orang menjadi binatang.
  5. Daya tarik yang timbul melalui kebaikan dan cinta.
  6. Pertolongan yang diberikan kepada orang baik oleh makhluk dengan kekuatan ajaib.
  7. keberhasilan anak ketiga atau anak bungsu ketika sang kakak gagal.
  8. Kecantikan dan keluhuran anak ketiga atau anak bungsu.
  9. Kecemburuan saudara kandung yang lebih tua.
  10. Kejahatan ibu tiri.
ü  Ciri-ciri Dongeng :
  1. Menggunakan alur sederhana.
  2. Cerita singkat dan bergerak cepat.
  3. Karakter tokoh tidak diuraikan secara rinci.
  4. Ditulis dengan gaya penceritaan secara lisan.
  5. Terkadang pesan atau tema dituliskan dalam cerita.
  6. Biasanya, pendahuluan sangat singkat dan langsung
  1. A.    Kesimpulan
Dongeng merupakan cerita fiktif yang berisi nasehat, pesan moral (kejujuran, kerendahhatian, kesetiakawanan, dan kerja keras), dan juga hiburan, selain itu mendongeng menjadi aktivitas berkomunikasi dengan anak yang mudah dan murah. Mendongeng juga bisa menjadi sarana efektif dalam menyampaikan pesan pada anak. Untuk itu dongeng dapat dijadikan sebagai media dalam pembelajaran apabila dalam penyampaianya memperhatikan beberapa faktor dan menggunakan media-media penunjang untuk mendukung ketersampaian pesannya, Supaya pesan dan nilai-nilai moral dapat tersampaikan dengan baik dan tepat. Serta dongeng tidak lagi membosankan dan lebih menarik dalam penyampaianya.
  1. B.     Saran
Setelah menyusun makalah ini dengan tema dongeng sebagai media belajar, ada beberapa saran sebagai berikut :
  1. Lebih mendalami pengertian tentang dongeng itu sendiri sehingga kita mampu menguraikan bagian bagian dari dongeng dan memahami dongeng itu sendiri secara mendetail.
Mencoba menjadikan dongeng sebagai media belajar yang lebih efektif dengan memahami cara menjadi pendongeng yang baik, dan memahami tentang komponen komponen dari dongeng itu sendiri